APENSO INDONESIA

header ads

GENERASI INTERNASIONAL

GENERASI INTERNASIONAL



Oleh: Gempur Santoso
Direktur LPIK Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Ketua RDI Jatim

DI BANDARA Soekarno Hatta terminal 3, pesawat Garuda, saya duduk di ruang tunggu gate 28. Saya sendirian.

Selanjutnya beberapa pemuda pemudi sekitar usia 20 tahunan duduk di kursi tunggu samping dan depan saya.  Anak anak itu ada 4 orang. Ada yang datangnya bersamaan, ada yang kebetulan ketemu di ruang tunggu itu.

Saya mendengar jelas apa yang diobrolkan mereka.  Tentu saya tidak ikut, hanya mendengarkan saja, pura pura tak mendengarkan.

Mereka sedang ngobrol dengan temannya. Salah satunya seorang cewek gendut seksi. Anak cewek gendut seksi itu pebisnis modern. Dia dari Manado, dagangannya ada di Surabaya, Malaysia, Kanada, Perancis dan beberapa negara. Anak muda yang lain bicaranya logat batak semi Betawi (Jakarta). Dia juga pedagang selain di beberapa kota Indonesia juga Malaysia dan Singapura.

Tampaknya mereka anak muda bisa disebut level international. Mereka tiap hari kluyuran bisnis pindah pindah negara. Saya yakin mereka semua anak Indonesia.
Nanti malam dia si cewek gendut seksi tu nginap di  hotel JW Marioot, ada pertemuan dengan owner, buyer atau apalah saya tak paham.
Besuk pagi si Gendut seksi itu ke Malaysia.

Dia santai, dan enak saat ngobrol dengan temannya.
Para pebisnis muda itu selain berbicara binisnya juga bicara lelucon WA grup mereka. Ya seperti anak anak desa, ibu ibu atau bapak bapak yang saat ini sedang kranjingan WA.
Mirip pula para dosen ngobrol guyonan membicarakan pengabdian masyarakat, penelitian, akreditasi, makan, ngopi dan lain lain. Tapi si Gendut seksi itu ngobral dengan temannya tentang prilaku pasar (buyer) beberapa negara atas dagangannya. Dimana negara yang laris membutuhkan produk dagangannya.

Mengapa mereka bisa kemana mana, ke berbagai negara. Mereka rata rata punya saudara/famili ataupun teman dekat di beberapa negara. Selama ngobrol anak anak itu tak membicarakan kampus atau kuliah. Maka, dugaan saya mereka belajar langsung melakukan yakni bisnis antar negara. Tentu, mereka bisa berbahasa inggris atau bahasa internasinal lainnya atau juga bahasa negara tertentu.

Untuk menjadi manusia dapat ke negara negara lain, minimal menguasai bahasa satu bahasa internasional. Misal menguasai dan bisa berbahasa Inggris atau bahasa Arab atau lainnya.
Walau sudah menginternasional, tetapi yang tak boleh dilupakan adalah kita tetap sebagai bangsa Indonesia.

Ada pepatah mengatakan “budaya menunjukan bangsa”. Oleh karena itu kita lahir di Indoneaia harus mempelajari menguasai budaya Indonesia. Kita berbudaya budaya setempat kita lahir atau berada. Kita harus tetap cinta tanah air Indonesia.
Kerja kerja kerja yes.

Posting Komentar

0 Komentar