APENSO INDONESIA

header ads

Kotaku Tercinta SALAM SATOE NYALI WANI Perangi COVID-19

“Kotaku Tercinta SALAM SATOE NYALI WANI Perangi COVID-19“
Oleh : H. Banu Atmoko
Apenso Indonesia


Kata Surabaya (bahasa Jawa Kuno : Śūrabhaya) sering diartikan secara filosofis sebagai lambang perjuangan antara darat dan air. Selain itu, dari kata Surabaya juga muncul mitos pertempuran antara ikan sura/suro (ikan hiu) dan baya/boyo (buaya), yang menimbulkan dugaan bahwa terbentuknya nama "Surabaya" muncul setelah terjadinya pertempuran tersebut.

Bukti sejarah menunjukkan bahwa Surabaya sudah ada jauh sebelum zaman kolonial, seperti yang tercantum dalam prasasti Trowulan I, berangka 1358 M. Dalam prasasti tersebut terungkap bahwa Surabaya (Churabhaya) masih berupa desa di tepi sungai Brantas dan juga sebagai salah satu tempat penyeberangan penting sepanjang daerah aliran sungai Brantas.

Surabaya juga tercantum dalam pujasastra Kakawin Nagarakretagama yang ditulis oleh Empu Prapañca yang bercerita tentang perjalanan pesiar Raja Hayam Wuruk pada tahun 1365 M dalam pupuh XVII (bait ke-5, baris terakhir). Walaupun bukti tertulis tertua mencantumkan nama Surabaya berangka tahun 1358 M (Prasasti Trowulan) dan 1365 M (Nagarakretagama), para ahli menduga bahwa wilayah Surabaya sudah ada sebelum tahun-tahun tersebut.

Menurut pendapat budayawan Surabaya berkebangsaan Jerman Von Faber, wilayah Surabaya didirikan tahun 1275 M oleh Raja Kertanegara sebagai tempat permukiman baru bagi para prajuritnya yang berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan pada tahun 1270 M.

Pendapat yang lainnya mengatakan bahwa Surabaya dahulu merupakan sebuah daerah yang bernama Ujung Galuh. Versi lain menyebutkan, Surabaya berasal dari cerita tentang perkelahian hidup-mati antara Adipati Jayengrono dan Sawunggaling. Konon, setelah mengalahkan pasukan Kekaisaran Mongol utusan Kubilai Khan atau yang dikenal dengan pasukan Tartar, Raden Wijaya mendirikan sebuah keraton di daerah Ujung Galuh dan menempatkan Adipati Jayengrono untuk memimpin daerah itu.

Lama-lama karena menguasai ilmu buaya, Jayengrono semakin kuat dan mandiri sehingga mengancam kedaulatan Kerajaan Majapahit. Untuk menaklukkan Jayengrono, maka diutuslah Sawunggaling yang menguasai ilmu sura. Adu kesaktian dilakukan di pinggir Kali Mas, di wilayah Peneleh. Perkelahian itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam dan berakhir dengan tragis, karena keduanya meninggal setelah kehilangan tenaga.

Nama Śūrabhaya sendiri dikukuhkan sebagai nama resmi pada abad ke-14 oleh penguasa Ujung Galuh, Arya Lêmbu Sora Wilayah Surabaya dahulu merupakan gerbang utama untuk memasuki ibu kota Kerajaan Majapahit dari arah lautan, yakni di muara Kali Mas. Bahkan hari jadi kota Surabaya ditetapkan yaitu pada tanggal 31 Mei 1293. Hari itu sebenarnya merupakan hari kemenangan pasukan Majapahit yang dipimpin Raden Wijaya terhadap serangan pasukan Mongol.

Pasukan Mongol yang datang dari laut digambarkan sebagai SURA (ikan hiu/berani) dan pasukan Raden Wijaya yang datang dari darat digambarkan sebagai BAYA (buaya/bahaya), jadi secara harfiah diartikan berani menghadapi bahaya yang datang mengancam. Maka hari kemenangan itu diperingati sebagai hari jadi Surabaya.

Pada abad ke-15, Islam mulai menyebar dengan pesat di daerah Surabaya. Salah satu anggota Walisongo, Sunan Ampel, mendirikan masjid dan pesantren di wilayah Ampel. Tahun 1530, Surabaya menjadi bagian dari Kerajaan Demak. Menyusul runtuhnya Demak, Surabaya menjadi sasaran penaklukan Kesultanan Mataram, diserbu Panembahan Senopati tahun 1598, diserang besar-besaran oleh Panembahan Seda ing Krapyak tahun 1610, dan diserang Sultan Agung tahun 1614.

Pemblokan aliran Sungai Brantas oleh Sultan Agung akhirnya memaksa Surabaya menyerah. Suatu tulisan VOC tahun 1620 menggambarkan, Surabaya sebagai wilayah yang kaya dan berkuasa. Panjang lingkarannya sekitar 5 mijlen Belanda (sekitar 37 km), dikelilingi kanal dan diperkuat meriam. Tahun tersebut, untuk melawan Mataram, tentaranya sebesar 30.000 prajuri Tahun 1675, Trunojoyo dari Madura merebut Surabaya, namun akhirnya didepak VOC pada tahun 1677. Dalam perjanjian antara Pakubuwono II dan VOC pada tanggal 11 November 1743, Surabaya diserahkan penguasaannya kepada VOC.

Gedung pusat pemerintahan Karesidenan Surabaya berada di mulut sebelah barat Jembatan Merah. Jembatan inilah yang membatasi permukiman orang Eropa (Europeesche Wijk) waktu itu, yang ada di sebelah Barat jembatan dengan tempat permukiman orang Tionghoa; Melayu; Arab; dan sebagainya (Vremde Oosterlingen), yang ada di sebelah Timur jembatan tersebut. Hingga tahun 1900-an, pusat kota Surabaya hanya berkisar di sekitar Jembatan Merah saja.

Agar tidak ada kesimpang-siuran dalam masyarakat maka Walikotamadya atau Kepala Daerah Tingkat II Surabaya, yang dijabat oleh Bapak Soeparno, mengeluarkan Surat Keputusan No. 64/WK/75 tentang penetapan hari jadi kota Surabaya. Surat Keputusan tersebut berisi bahwa pada tanggal 31 Mei 1293 diperingati sebagai hari jadi kota Surabaya.

Bahkan orang Jawa pun percaya bahwa nama Surabaya berasal dari kata “sura ing bhaya” yang memiliki arti “keberanian menghadapi bahaya” hingga sekarang simbol patung itu masih ada di depan Kebun Binatang Surabaya sebagai tempat wisata. Nama Kota Surabaya sudah ada sejak awal masa kerajaan Majapahit.

Nama Surabaya tercipta dari gabungan kata Sura dan Baya, nama dua binatang yang bertempur. Kedua ikon tersebut digunakan menggambarkan peristiwa yang terjadi di Ujung Galuh (nama daerah Surabaya pada zaman dulu), yakni pertempuran antara tentara yang dipimpin Raden Wijaya dengan pasukan tentara Tar Tar pada tanggal 31 Mei 1293. Tanggal tersebut kemudian dikenal sebagai hari lahirnya Kota Surabaya.


Hari Minggu 31/5/2020 adalah Hari Jadi Kota Surabaya Yang Ke – 727, dimana pada tahun ini Hari Jadi Kota Surabaya bersamaan dengan PANDEMI COVID – 19, jadi tidak ada perayaan kegiatan tersebut, di usia yang Ke – 727 Kota Surabaya adalah Kota Yang Hijau, Kota Yang Bersih dengan segudang Prestasi yang dimiliki. Dimana Tata Kota Dan Tata Ruang sangat Bagus dan sangat Rapi. Pelayanan umum juga sangat bagus serasa kita di Luar Negeri.

Tapi saat Ini Penulis merasa sangat sedih dan Iba Kota Surabaya Kota yang sangat Indah, Kota yang Hebat kini mengalami Pilu Pahit yaitu data dari https://lawancovid-19.surabaya.go.id/ sampai hari JUM’AT 29 MEI 2020 Surabaya Utara yang meninggal sebanyak 60 Orang, Surabaya Timur sebanyak 56 Orang yang meninggal, Surabaya Pusat sebanyak 43 Orang yang meninggal, Surabaya Selatan yang meninggal sebanyak 43 Orang, sedangkan Surabaya Barat yang meninggal sebanyak 17 Orang.

Dalam kesempatan yang baik ini Penulis mengajak kepada Masyarakat SALAM SATOE Nyali WANI Lawan CORONA. Penulis meminta kepada Masyarakat untuk mematuhi Aturan Protokoler tentang Pandemi COVID – 19 tersebut, Insya Allah jika Masyarakat Surabaya dapat Taat Aturan dengan Menjaga Pola Hidup Bersih dan Sehat, memakai Masker, selalu Cuci Tangan.

Arek Soeroboyo iku Bondo Nekat, makanya di Hari Jadi Kota Surabaya Penulis Meminta kepada Masyarakat Kota Surabaya agar sama-sama memerangi COVID – 19 tersebut, Insya Allah jika Masyarakat Taat VIRUS CORONA akan Hilang dari Bumi ini khusunya dari Kota Surabaya. Maka itu adalah Kado Terindah di Hari Jadi Kota Surabaya yang Ke – 727, sehingga Perekonomian, Pendidikan bisa kembali normal lagi Arek SOEROBOYO Bersatu Padu Melawan Dan Memerangi PANDEMI COVID – 19 ini.
#TantanganGuruSiana  
#dispendikSurabaya 
#Guruhebat

Posting Komentar

0 Komentar