APENSO INDONESIA

header ads

REVITALISASI BANTARAN SUNGAI SIDOKEPUNG SEBAGAI LOKASI LATIHAN DAYUNG PEMUDA & PENGGERAK EKONOMI MASYARAKAT GUNA MEWUJUDKAN ENVIRONMENT SUISTAINABLE DEVELOPMENT

REVITALISASI BANTARAN SUNGAI SIDOKEPUNG SEBAGAI LOKASI LATIHAN DAYUNG PEMUDA & PENGGERAK EKONOMI MASYARAKAT GUNA MEWUJUDKAN ENVIRONMENT SUISTAINABLE DEVELOPMENT


Diva ‘Aidah Sahlaa ¹ Dinda Zalsa Bella Intan² Katon Galih Setyawan, S.Sos. M.Sos, 
Dr. Kusnul Khotimah, S.Pd., M.Pd.
S1 Pendidikan IPS
Universitas Negeri Surabaya

diva.21003@mhs.unesa.ac.id,
dindazalsa.21027@mhs.unesa.ac.id, 
katonsetyawan@unesa.ac.id,
khusnulkhotimah@unesa.ac.id



ABSTRAK

 Kondisi bantaran sungai semakin memperihatinkan yang disebabkan perilaku masyarakat membuang limbah dan sampah di sungai sehingga mengakibatkan terjadinya degradasi lingkungan. Sungai Sidokepung mengalami pencemaran akibat limbah sampah rumah tangga dan limbah industri yang terlihat pada tingkat kejernihan air dan bau sungai. Urgensi penelitian ini untuk mengatasi pencemaran sungai dengan revitalisasi bantaran sungai melalui kegiatan latihan dayung dan penggerak UMKM lokal di sekitar bantaran sungai Sidokepung. Revitalisasi yaitu memperbaiki kondisi sekitar bantaran sungai seperti semula dengan usaha-usaha pengelolaan lingkungan alam yang berkelanjutan untuk meningkatkan perekonomian dan sosial masyarakat setempat guna mewujudkan environment suistainable development. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kondisi bantaran sungai Desa Sidokepung dan mengkaji strategi revitalisasi pengelolaan bantaran sungai sesuai dengan konsep environment suistainable development. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dengan menguraikan hasil temuan data secara deskriptif. Hasil temuan data diperoleh melalui wawancara mendalam (deep-interview) dengan masyarakar sekitar Desa Sidokepung dan obervasi di sekitar bantaran sungai Sidokepung. Strategi yang dapat dilakukan untuk revitalisasi bantaran sungai Sidokepung yakni mengedepankan prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

  Kata kunci: Bantaran Sungai, Pencemaran sungai, Revitalisasi


ABSTRACT

   The condition of the riverbanks is increasingly worrying due to the behavior of the community in disposing of waste and garbage in the river, resulting in environmental degradation. The Sidokepung River is polluted due to household waste and industrial waste which can be seen in the water clarity and smell of the river. The urgency of this research is to overcome river pollution by revitalizing riverbanks through rowing training activities and driving local SMEs around the Sidokepung riverbanks. Revitalization is to improve conditions around riverbanks as before with sustainable natural environmental management efforts to improve the local economy and social community in order to realize a sustainable development environment. The purpose of this study was to analyze the condition of the riverbanks of Sidokepung Village and to examine the strategy of revitalizing riverbank management in accordance with the concept of environment sustainable development. The research method used is descriptive qualitative by describing the data findings descriptively. The findings of the data were obtained through in-depth interviews (deep-interviews) with the community around Sidokepung Village and observations around the Sidokepung riverbank. The strategy that can be done to revitalize the Sidokepung riverbank is to prioritize the principles of sustainable development and be environmentally friendly.

 Key words: Riverbanks, River pollution, Revitalization



PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG MASALAH

   Indonesia merupakan negara yang kaya akan potensi sumber daya alam. Topografi wilayah yang terdiri dari hamparan luas lautan dan daratan serta ribuan pulau dari Sabang hingga Merauke menjadi bukti betapa kayanya bangsa Indonesia. Potensi sumber daya alam di Indonesia tidak hanya berupa topografi lautan, pegunungan, pulau saja namun di setiap wilayah daerahnya terdapat kekayaan alam yang bisa di eksplor untuk kesejahteraan hidup masyarakat, apabila pengelolaanya dilakukan secara benar dengan memperhatikan konsep keberlanjutan untuk generasi yang akan datang. Lingkungan alam memiliki peranan penting sebagai cerminan gambaran kondisi suatu wilayah tertentu. Oleh karena itu perlu dijaga dan dilestarikan keberlanjutannya. 
   Fenomena degradasi lingkungan, khususnya disekitar aliran sungai banyak dijumpai, diantaranya pembuangan limbah industri pabrik di sungai dan pembuangan limbah sampah rumah tangga di sepanjang bantaran sungai (PS & Oktavianti, 2021). Selain itu, permasalahan lain yang dijumpai di bantaran sungai yakni sanitasi, drainase, dan infrastruktur jalan yang menyebabkan terjadinya risiko banjir dan gangguan kesehatan lingkungan yang tinggi di wilayah perkotaan(Fitria, 2017). Kondisi tersebut dapat dibuktikan secara fakta dan realitas, dilingkungan sekitar tempat tinggal saya terjadi degradasi lingkungan sungai yang disebabkan oleh pembuangan limbah industri pabrik dan sampah rumah tangga setiap harinya di sepanjang aliran sungai Sidokerto – Sidokepung. Hal tersebut mengancam ekosistem atau habitat biota-biota sungai seperti ikan, plankton,zoo plankton yang berfungsi sebagai penyeimbang alam, namun saat ini eksistensi biota-biota sungai terancam oleh perbuatan manusia. Selain itu, dengan adanya pembuangan limbah industri di sungai juga berdampak pada penurunan kualitas air sungai. Perilaku masyarakat yang kurang menyadari betapa pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan sekitar, khususnya di bantaran sungai menjadi suatu fokus problematik yang harus dituntaskan.
  Sehubungan dengan fenomena degradasi lingkungan di atas, bantaran sungai merupakan ruang antara tepi palung sungai dan kaki tanggul sebelah kanan dan kiri sungai. Di desa Sidokepung terdapat bantaran sungai yang menjadi DAM dari beberapa aliran sungai desa-desa lain sehingga bantaran sungai desa Sidokepung dapat dibilang cukup panjang dan lebar. Bantaran sungai Sidokepung pernah masuk dalam sorotan media massa karena menjadi tempat pembuangan sampah hingga mencemari tepi jalanan (KLHK,2022). Berdasarkan hasil informasi tumpukan sampah dibantaran sungai Sidokepung disebabkan karena perilaku masyarakat luar desa atau para pengguna jalan yang melintasi bantaran sungai. Di samping itu,dengan adanya pembuangan sampah di sekitar bantaran sungai dapat menyebabkan pendangkalan sungai yang menyebabkan terjadinya banjir (Mustika, 2017).
Potensi sungai yang dapat dikembangkan kedepannya sebagai environment suistainable development harus dikelola dengan baik. Kedalaman, panjang dan lebar sungai desa Sidokepung berpotensi dijadikan sebagai lokasi latihan dayung para pemuda desa setempat. Hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh para pemuda – pemudi desa yang memiliki bakat dalam olahraga dayung untuk berlatih di sepanjang bantaran sungai. Selain dijadikan sebagai lokasi latihan dayung, para masyarakat desa sekitar dapat melakukan kegiatan ekonomi karena dengan adanya revitalisasi sungai sebagai lokasi latihan dayung menyebabkan banyak masyarakat desa luar yang menonton latihan tersebut sehingga perekonomian umkm juga tergerak. Sedangkan, permasalahan sampah yang sempat mencemari bantaran sungai dapat diatasi dan dijaga karena terdapat pengawasan dari para pemuda-pemudi yang sedang melakukan latihan dayung. 
   Revitalisalisasi merupakan suatu upaya untuk memperbaiki kondisi alam seperti semula dengan usaha-usaha pengelolaan lingkungan alam yang berkelanjutan untuk meningkatkan perekonomian dan sosial masyarakat setempat (Eni, 2019). Sebagai upaya untuk mengatasi masalah pencemaran limbah sungai di sepanjang bantaran sungai Sidokerto dan Sidokepung, maka perlu dilakukan revitalisasi oleh seluruh elemen masyarakat. Berdasarkan uraian problematika di atas, maka menjadi urrgensi untuk melakukan penelitian. Oleh karena itu, dalam artikel ini akan membahas dan mengkaji penelitian dengan judul “ Revitalisasi Bantaran Sungai Sidokepung Sebagai Latihan Dayung dan Penggerak Ekonomi Masyarakat Setempat Guna Mewujudkan Environment Suistainable Development


RUMUSAN MASALAH

   Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas maka diperoleh rumusan masalah sebagai berikut : 
1. Bagaimana kondisi di sekitar bantaran sungai Desa Sidokepung, Buduran Sidoarjo ? 

2. Bagaimana menentukan strategi pengorganisasian masyarakat dalam merevitalisasi sumber daya alam sungai sebagai bagian dari pembangunan lingkungan desa ? 

3. Bagaimana dampak ekonomi –sosial yang diperoleh melalui revitalisasi desa sebagai usaha mewujudkan Environment Suistainable Development ?


TUJUAN PENELITIAN

   Berdasarkan rumusan masalah yang ada dalam uraian analisis di atas maka diperoleh tujuan dari pelaksanaan kegiatan yang dilakukan sebagai berikut : 
1. Untuk mengetahui bagaimana kondisi sumber daya alam sungai Desa Sidokepung
2. Untuk mengidentifikasi strategi yang tepat dari usaha pengorganisasian masyarakat desa dalam bentuk merevitalisasi sumber daya alam sungai sebagai bagian dari pembangunan lingkungan desa. 
3. Untuk mengetahui proses perubahan sosial yang diciptakan akibat dari revitalisasi sumber daya alam sungai dalam Mewujudkan Environment Suistainable Development.


MANFAAT PENELITIAN

   Penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan beberapa kemaslahatan diantaranya : 
1. Manfaat Teoritis
  Artikel penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap kajian pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya untuk studi rumpun ilmu yang relevan dengan penelitian ini. 

2. Manfaat Praktis
    Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan untuk menentukan dan membuat suatu kebijakan pembangunan berkelanjutan bagi pemerintah dan masyarakat. Selain itu, penelitian ini dapat memberikan gambaran menentukan strategi yang tepat mengenai pengorganisasian masyarakat desa melalui revitalisasi sumber daya alam sungai.  


KAJIAN PUSTAKA

Pembangunan Berkelanjutan
  Pembangunan berkelanjutan adalah suatu upaya meningkatkan taraf hidup kesejahteraan masyarakat. Indikator kesejahteraan taraf hidup masyarakat dapat diukur dari pemerataan pembangunan baik dalam sektor ekonomi, sosial, budaya dan politik. Suatu pembangunan dapat dikatakan berkelanjutan apabila terjadi regenerasi antara pemanfaatan sumber daya masa ini hingga masa yang akan datang. Suatu pembangunan berkelanjutan berorientasi tidak adanya kegiatan yang bersifat eksploitasi secara besar-besaran terhadap sumber daya alamnya ( depletion of natural resources) dan tidak adannya dampak akibat eksploitasi terhadap keberlangsungan lingkungan alam dan lingkungan sosialnya, serta aktivitasnya bersifat userable resources (Jaya, 2004).

Teori Lingkungan 
   Lingkungan hidup merupakan tempat dimana makhluk hidup dan mati tumbuh dan berkembang. Secara umum, lingkungan ialah kombinasi dari kondisi fisik yang meliputi sumber daya alam, baik biotik dan abiotik (Damarwanto, 2015). 
  Pengeloaan lingkungan harus menerapkan konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan, baik lingkungan alam secara fisik maupun lingkungan sosial yang berlandaskan pada pengetahuan dan wawasan sebagai upaya untuk menciptakan kondisi pembangunan lingkungan yang berkelanjutan (Damarwanto, 2015).

Revitalisasi 
   Revitalisalisasi merupakan suatu upaya untuk memperbaiki kondisi alam seperti semula dengan usaha-usaha pengelolaan lingkungan alam yang berkelanjutan untuk meningkatkan perekonomian dan sosial masyarakat setempat (Eni, 2019).

Konsep Pemberdayaan
  Secara konseptual makna pemberdayaan berangkat dari kata ‘power’ yang berarti kekuatan. Pemberdayaan merujuk pada suatu kemampuan yang dimiliki seseorang ataupun suatu kelompok yang masih dikatakan rentan atau lemah, sehingga dalam hal ini mereka memiliki beberapa hal yang harus diperhatikan yang dijabarkan sebagai berikut :
  Dikatakan memiliki kebebasan (freedom) disebabkan karena mereka yang dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, tidak hanya itu saja tetapi dengan bebas dalam mengemukakan pendapat, bebas dari ancaman kelaparan, kebodohan, serta kesakitan. 
   Meraih jangkauan terhadap sumber-sumber produktif dimana terdapat kemungkinan bahwa mereka dapat memperoleh tingkatan lebih tinggi terhadap pendapatannya dan memperoleh barang atau jasa yang diperlukan.
  Ikut serta dalam melakukan proses pembangunan dan menghasilkan keputusan yang mana hal ini dapat mempengaruhi kehidupan mereka. 
   Faktor pendorong dari adanya pemberdayaan merupakan usaha dalam memperkuat adanya kekuasaan pada masyarakat, khususnya pada suatu kelompok yang masih dikatakan lemah dalam ketidakberdayaan. Hal ini dapat dilihat dari kondisi internal ataupun kondisi eksternal yang dimiliki. Terdapat beberapa jenis kelompok yang dapat dikategorikan sebagai kelompok lemah dalam ketidakberdayaan sebagai berikut : 
1. Kelompok yang dianggap masih lemah dapat dilihat dari sudut pandang struktural, tidak hanya kemah terhadap kelas, melainkan gender hingga etnis.
2. Kelompok yang dianggap lemah ketika dilihat dari sudut pandang khusus, didapatkan seperti masyarakat yang didominasi oleh kalangan manula, anak-anak, hingga remaja penyandang stabilitas, terdapat masalah gender seperti gay dan lesbi, hingga masyarakat yang terasing. 
3. Kelompok yang dirasa lemah dalam perspektif personal dapat dilihat dari fenomena masyarakat yang mengalami masalah internal dan eksternal seperti masalah terhadap pribadinya ataupun keluarga. 
  Pengembangan yang dilakukan terhadap masyarakat selalu dimaknai sebagai sebuah proses dalam pembelajaran kepada masyarakat itu sendiri dengan tujuan mereka memperoleh kemandirian ketika melakukan usaha-usaha dalam memperbaiki kualitas dari hidupnya. Menurut pemikiran Soedjatmiko, terdapat suatu proses yang sering sekali belum dicantumkan dalam pengembangan, yaitu sosial learning. Adanya pengembangan masyarakat (community development) ditunjukkan sebagai bagian dari perencanaan sosial yang kemudian dilandasi oleh beberapa asas sebagai berikut : 
Pertama terdapat asas komunitas yang terlibat dalam setiap proses dalam memperoleh keputusan akhir
Asas komprehensif pemerintah, yang mana berkaitan dengan pihak terkait dengan partisipasi yang diberikan oleh masyarakat. 
Memberikan keterbukaan terhadap pengaksesan masyarakat dam bantuan profesional, fasilitasi, teknis, serta insentif dalam hal meningkatkan kekuatan partisipasi dari masyarakat. 
Perubahan pola perilaku profesional untuk lebih cekatan terhadap kebutuhan, perhatian, serta gagasan yang diperoleh dari masyarakat komunitas.

Jenis Pendekatan Pemberdayaan
   Terdapat tiga jenis pendekatan yang dapat dilakukan dalam melakukan kegiatan pemberdayaan terhadap komunitas, diantaranya : 
Model pengembangan lokal 
  Model pengembangan lokal atau dikenal sebagai (locallydevelopmentmodel) merupakan model yang memiliki tumpuan pada sudut pandang yang memaknai bahwa adanya perubahan yang terjadi pada masyarakat dapat mencapai titik optimal jika dilakukan dengan melibatkan seluruh masyarakat melalui partisipasi yang dilakukan pada tingkatan lokal. 

Model perencanaan sosial 
  Sosial planning model merupakan model perencanaan yang terfokus pada sebuah proses pemecahan dari masalah yang ada melalui teknik dari masalah sosial yang timbul akibat substansif. Dari hal ini strategi yang dapat dilakukan dengan pengumpulan terhadap masalah&masalah yang ada pada masyarakat. Pengumpulan dapat diperoleh dari ungkapan yang dikeluhkan oleh masyarakat, dengan demikian perumusan dari tindakan selanjutnya dapat terlaksana. 

Model aksi sosial
  Dalam penerapan model ini, penekanan terdapat pada pemerataan yang dilakukan atas kekuasaan dan sumber-sumber yang diperoleh. Dari adanya hal tersebut akan menciptakan keputusan dari masyarakat yang mana akan memberikan perubahan dasar terhadap kebijakan yang ada dalam persoalan. Salah satu strategi yang dapat diterapkan dengan melakukan gerakan terhadap kelompok-kelompok masyarakat terutama ada kelompok yang tergolong pada kategori grassrots (masyarakat akar rumput) yang memiliki powerless (ketidakberdayaan atau kekuatan) agar dapat ikut andil dalam kegiatan aktif dari usaha-usaha yang dilakukan dan pengarahan kehidupan pada perubahan. 


METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian
   Penelitian ini menggunakan metode penelitian desktiptif kualitatif dengan alasan untuk memperoleh data dan menganalisis data bersifat kualitatif berupa deskripsi kata-kata yang tertulis maupun lisan hasil dari wawancara mendalam (deep-interview) dari pihak-pihak terkait yang akan dijadikan sebagai narasumber penelitian ini. 

Lokasi Penelitian
   Penelitian ini dilakukan di Desa Sidokepung tepatnya di bantaran sungai desa Sidokepung sebagai tempat untuk observasi kawasan sungai. 

Teknik Pengumpulan Data
   Dalam penelitian ini, untuk memperoleh suatu data maka dilakukan pengumpulan data, sebagai berikut:
Observasi
Observasi merupakan pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati lingkungan sekitar yang disertai dengan pengukuran variabel-variabel suatu fenomena kejadian yang terjadi secara alami. Dengan melakukan observasi, maka peneliti mengetahui kondisi bantaran sungai Sidokepung sesungguhnya.

Wawancara mendalam ( deep-interview)
Pengumpulan data selanjutnya dilakukan melalui wawancara dengan pihak masyarakat setempat untuk menggali informasi fenomena alam atau sosial apa yang pernah terjadi di sekitar bantaran sungai Desa Sidokepung dan bagaimana pengelolaan kawasan diseitar bantaran sungai Sidokepung. 

Studi pustaka (literature study)
Untuk memperkuat analisis hasil observasi dan wawancara, dalam penelitian ini juga memperoleh data melalui studi pustaka dari jurnal-jurnal nasional maupun internasional yang relevan dengan topik penelitian. 


HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL PENELITIAN

   Berdasarkan hasil observasi secara langsung di sekitar bantaran sungai Desa Sidokepung, peneliti memperoleh beberapa data observasi diantaranya yakni,(1) Kondisi bantaran sungai, (2).Fenomena alam maupun sosial yang terjadi, (3) Potret bantaran sungai ketika pagi hari hingga malam hari.
   Hasil data temuan observasi yang (1) Pertama yakni terkait kondisi bantaran sungai di Desa Sidokepung, peneliti melakukan observasi secara berulang kali dan tidak hanya sekali saja, karena untuk menggali suatu data maka tidak dapat dilakukan hanya satu kali saja. Kondisi bantaran sungai Sidokepung setiap harinya selalu terdapat aktivitas manusia yang melakukan kegiatan berjualan, latihan dayung, memancing hingga mengopi di warkop sekitar bantaran sungai. Kondisi sungai secara fisik sebenarnya tidak ada bedanya dengan sungai lain, namun apabila dilihat dari segi aktivitas manusia disekitarnya maka hal tersebutlah yang menjadi pembeda antara bantaran sungai di Desa Sidokepung dengan bantaran sungai di desa lain. Selain itu, terpantau setiap 1 minggu 2 kali peneliti selalu mengamati kondisi kebersihan disekitar bantaran sungai, dan hasil yang ditemukan yakni di setiap harinya selalu ada tumpukan sampah disepanjang bantaran sungai. Kejadian tersebut tidak diketahui secara pasti siapa yang membuang sampah-sampah di sekitar bantaran sungai, namun pernah beberapa kali memergoki pengguna jalan umum yang membuang sampah bungkus makanan di bantaran sungai Sidokepung. Sehingga apabila setiap harinya ada masyarakat yang membuang sampah disekitaran bantaran sungai itu, maka apabila sampah-sampah itu dibiarkan akan menumpuk dan menganggu aktivitas manusia disekitar bantaran sungai. (2) Temuan data observasi yang kedua, yakni terkait fenomena alam maupun sosial yang terjadi yakni, terkait dengan fenomena alam debit aliran sungai terkadang meluap terlebih ketika terjadi hujan deras, Dam air sungai tidak mampu menampung debit air yang terlalu banyak sehingga tidak jarang air sungai ini juga akan meluap hingga ke jalan raya yang ada didepannya. Sedangkan dari segi fenomena sosial yang ditemukan yakni terdapat aktivitas baru disekitar bantaran sungai Desa Sidokepung yakni cangkruk-an ngopi. Hal tersebut menurut peneliti, sebagai fenomena baru yang ditemukan di sekitar bantaran sungai, karena sebelumnya di daerah bantaran sungai ini hanya ada aktivitas memancing, jualan nasi, kue, baju thrift, serta aktivitas latihan dayung. Namun baru-baru ini dijumpai nyangkruk ngopi. Selain itu, di sisi depan bantaran sungai terdapat kawasan sentra kuliner yang dibangun diseberang sungai. Hal tersebut menjadi fenomena sosial baru dimana ketika malam hari pada saat dulu sangat sepi namun saat ini di sekitar kawasan bantaran sungai Sidokepung sudah ramai dengan aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat. Dan yang ketiga (3)Potret bantaran sungai ketika pagi hari dan hari-hari weekend, berdasarkan hasil observasi yang peneliti peroleh bahwasannya ketika pagi hari terdapat aktivitas ekonomi masyarakat setempat yang menjual nasi kucing, baju bekas (thrift) dan menjual buah-buahan serta sayur mlijo pagi hari. Sedangkan pada sore hari potret bantaran sungai terdapat latihan dayung yang dilakukan oleh kalangan pemuda-pemudi desa setempat. Dan potret pada malam hari yakni disekitar bantaran sungai terdapat aktivitas memancing karena sungai ini dari dulu terkenal dengan banyaknya ikan sehingga banyak orang-orang yang memancing di sekitar bantaran sungai Sidokepung.
   Terkait dengan temuan data hasil wawancara baru satu kali melakukan wawancara kepada salah satu pemuda yang melakukan latihan dayung. Wawancara ini dilakukan kepada Saudara Yusuf Prasetyo sebagai salah satu pemuda desa setempat yang mengikuti latihan dayung di Sungai Sidokepung. Pertanyaan wawancara pada saat itu, yakni seputar kegiatan dayung. Menurut Saudara Yusuf, kegiatan dayung di sungai Sidokepung sudah berjalan kurang lebih 7 tahun, dan pertama kali diadakan pengelolaan tempat latihan dayung pada tahun 2015. Pada awalnya kegiatan dayung ini pertama kali diinisiasi oleh pemuda desa setempat yang resah terhadap lingkungan sungai di desannya yang tidak dikelola dengan baik. Selain itu, ketika sebelum ada kegiatan dayung, di sepanjang sungai selalu ada sampah masyarakat yang dibuang ke sungai sehingga sering menyebabkan banjir hingga ke rumah warga karena air meluap sedangkan sungai dangkal karena dasar sungai dipenuhi sampah masyarakat. Oleh Karena itu, pemuda desa sekitar tergerak untuk melakukan pengelolaan sungai lebih lanjut melalui kegiatan dayung dimana pada saat latihan dayung ini tidak semata-mata hanya berlatih di atas perahu namun juga memperhatikan sampah-sampah disekitarnya untuk dibersihkan. Hal tersebut sebagai wujud kepedulian pemuda desa akan keberlanjutan lingkungan alam sekitarnya.


PEMBAHASAN

Pemberdayaan Masyarakat
   Pemberdayaan yang dilakukan dalam menggali konsep dari pembangunan keberlanjutan perlu adanya pertimbangan mengenai standar kebutuhan dari segi sosial dan kultural. Penyebarluasan nilai-nilai dapat memberikan standar melalui konsumsi yang beragam pada batas kemampuan lingkungan yang dimiliki dan standar orang-orang menginginkannya. Akan tetapi terdapat kemungkinan kecenderungan terhadap pemenuhan kebutuhan yang terpacu pada kebutuhan di alam. Bentuk perwujudannya dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan pada bidang produksi dengan melihat skala maksimum. Syarat jelas mengenai pembangunan keberlanjutan adalah dengan menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai kebutuhan utama dengan konsisten, namun dengan tanda kutip bahwa pertumbuhan ini menggambarkan prinsip-prinsip yang berkelanjutan. Akan tetapi pada kondisi lapangan, aktivitas produksi yang dilakukan dengan skala tinggi dapat terlaksana dengan diiringi masalah kemelaratan yang masih menjadi isu untuk ditangani lebih lanjut. Kondisi inilah yang dapat memberikan ancaman terhadap lingkungan khususnya pada tingkat lokal, regional, nasional, hingga global. 
   Berangkat dari hal yang sama, memang tidak dapat dipungkiri bahwasanya sumber daya alam di darat dan di laut memiliki dorongan pemanfaatan secara berlebihan. Ketika pemanfaatan yang dilakukan sudah mencapai batas dari data, maka akan menciptakan masalah-masalah lingkungan khususnya pada tingkat lokal, atau regional, ataupun nasional dan global. Kondisi ini disebabkan dari kesadaran manusia dalam menjaga kelestarian dari lingkungan pada kehidupan manusia. Setelah adanya pernyataan mengenai penting melihat isu global yang kemudian disusul dengan penerbitan buku yang berjudul “Our Common Future oleh World Commission On Environment And Development” (Oxford University Press, 1987), dengan membawa istilah sustainable development (pembangunan keberlanjutan). Dasar pembangunan yang dilakukan sebagai pemenuhan kebutuhan masyarakat tanpa meninggalkan kemampuan yang foloki generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan mereka di masa depan. Hal ini termasuk kedalam proses perubahan yang mana pemanfaatan dari sumber daya alam mengarah pada investasi, perubahan kelembagaan, hingga orientasi yang mengacu pada pembangunan secara bersinergi, sehingga dapat menciptakan kekuatan potensi dalam memenuhi kebutuhan dan aspirasi manusia. 
   Konsep dari pembangunan berkelanjutan yang digagas, dapat menjadi sebuah implikasi terhadap batasan-batasan non absolut, batasan ini dapat diartikan dari singkatan masyarakat serta organisasi sosial yang berkaitan dengan sumber daya alam dan kemampuan biosdir yang dimiliki. Hal ini disebabkan oleh adanya penyerapan pada berbagai pengaruh yang ditimbulkan dari aktivitas manusia itu sendiri. Adanya teknologi dan sumber daya manusia menjadi dalan dalam memberikan pengaruh terhadap era baru bagi pertumbuhan ekonomi yang diharapkan. Oleh karena itu pembangunan keberlanjutan menjadi bagian dari pembangunan yang menerapkan prosedur dalam meninjau kelestarian, kemapuan, serta fungsi. Pada bagian prosedur fungsi terdapat komponen dari lingkungan alam pada ekosistem yang dapat mendukung pembangunan dengan demikian pembanguan keberlanjutan bagi penggerak ekonomi dapat terlaksana dengan baik. Melalui peningkatan potensi yang dimiliki untuk memanfaatkan kesempatan yang ada.


KESIMPULAN

   Sebagai fenomena baru yang ditemukan di sekitar bantaran sungai, karena sebelumnya di daerah bantaran sungai ini hanya ada aktivitas memancing, jualan nasi, kue, baju thrift, serta aktivitas latihan dayung. Hal tersebut menjadi fenomena sosial baru dimana ketika malam hari pada saat dulu sangat sepi namun saat ini di sekitar kawasan bantaran sungai Sidokepung sudah ramai dengan aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat. Dan potret pada malam hari yakni disekitar bantaran sungai terdapat aktivitas memancing karena sungai ini dari dulu terkenal dengan banyaknya ikan sehingga banyak orang-orang yang memancing di sekitar bantaran sungai Sidokepung. 

   Pada awalnya kegiatan dayung ini pertama kali diinisiasi oleh pemuda desa setempat yang resah terhadap lingkungan sungai di desannya yang tidak dikelola dengan baik. Hal ini termasuk kedalam proses perubahan yang mana pemanfaatan dari sumber daya alam mengarah pada investasi, perubahan kelembagaan, hingga orientasi yang mengacu pada pembangunan secara bersinergi, sehingga dapat menciptakan kekuatan potensi dalam memenuhi kebutuhan dan aspirasi manusia. Konsep dari pembangunan Keberlanjutan yang digagas, dapat menjadi sebuah implikasi terhadap batasan-batasan non absolut, batasan ini dapat diartikan dari singkatan masyarakat serta organisasi sosial yang berkaitan dengan sumber daya alam dan kemampuan biosdir yang dimiliki.


SUMBER REFERENSI

Damarwanto, A. (2015). Implementasi Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan Studi Pada Kelurahan Lempake Kecamatan Samarinda Utara Kota Samarinda. JIEP, 15(2), 8.

Eni, S. P. (2019). Laporan Penelitian Revitalisasi Kawasan Benteng Somba Opu sebagai Kawasan Bersejarah Peninggalan Kerajaan Gowa Sulawesi Selatan. 1–44.

Fitria, T. A. (2017). Revitalisasi Permukiman di Tepi Sungai Dengan Pendekatan Lansekap Berkelanjutan untuk Meningkatkan Kesehatan Lingkungan. Proceeding Health Architecture, Vol. 1(No. 1), 195–197.

Jaya, A. (2004). KONSEP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN ( Sustainable Development ). Tugas Individu Pengantar Falsafah Sains Semester Ganjil 2004, 1–11.

Mustika, R. (2017). Dampak Degradasi Lingkungan Pesisir Terhadap Kondisi Ekonomi Nelayan: Studi Kasus Desa Takisung, Desa Kuala Tambangan, Desa Tabanio. Dinamika Maritim, 6(1), 28–34.

PS, S. N. F., & Oktavianti, T. (2021). Pengaruh Perilaku Masyarakat Yang Tinggal Pada Bantaran Sungai Terhadap Kualitas Air Sungai Sei Lepan, Langkat, Sumatera Utara. Seminar Nasional Peningkatan Mutu Pendidikan, 2(1), 189–194.









Posting Komentar

0 Komentar